Monday, July 7, 2014

Sekadar Memori Mawar

melihat mawar, pada potret alam
dalam kekaburan tengah malam, yang lesu
aku hanya mampu membisu
mencoba diamkan segala tofan di belantara
yang meronta dengan bengis
yang mengaum menempik sunyi
kerna lagu yang kau lirik masih bernyanyi
menegur air mata yang kita rahasiakan
supaya ia keluar dari sembunyi
ah, aku tidak ingin begini
kerna aku masih siuman, menepis sawan
ku pendam rawan, ku coba lawan
semua hiris luka di tiap waktu ufuk
mendengar suara mu, memanggil aku
sedang kau tiada, walau hanya bayang
pada sadar hari ini.

Seroja

lereng yang telah ku jalani menjadi munsyi buat ku
mendidik aku agar petah dalam menulis karya
menyusun huruf-huruf menjadi sebuah cerita
namun tidak pernah bisa, melakar hakikat cinta yang sempurna
aku telah merenyeh dan mengusap air mata
di waktu malam sehingga ia disapa subuh
di waktu lena sehingga perlahan jiwa ku luluh
aduhai seri purnama yang bersipu, malu
telah ku cari di serata negara, di pelusuknya
di penjurunya, di penghujungnya, dan di permulaannya
butir-butir mutiara yang memuji, cukup layak
untuk dikalungkan pada leher mu
namun seindah sinar kilaunya, seindah peri bentuknya
tidak lain hanya seketul batu kedana di sisi mu
bahasa yang telah ku kumpul tidak mampu
menjadi surat untuk ku sampulkan
sebagai menyata lafaz rasa yang bersangkar
di dada ku

Malaysia Tidak Merdeka

Lewat ini arus telah deras, kian deras, kian hari
di tengah lebat hujan, telah banyak yang terhanyut
lalu perlahan, demi perlahan, mati kelemasan
hujan tidak akan berhenti, selagi awan masih rawan
untuk merendam rimba, sehingga laut dapat digari
kelmarin dan esok, tiada beza dengan hari ini
kita tetap akan melihat juta nyawa menjadi santapan
jika tiada mampu ditelan, maka akan dipastikan sawan
kehilangan luhur serta jujur, berkubur di medan tempur
pepohonan yang merimbun di tepi sungai
hanya mampu menangis, menjemput embun setiba subuh
kerna mereka telah dipaku oleh akar yang ditanam dalam
cuba memujuk diri dengan hembus angin yang dendam
lalu menggugurkan dedaun, sekeping demi sekeping
dikucup ia tanah, diludah, terbiar sehingga ia kering
sampai bila? perlu kita melalui zaman yang petaka ini
saban waktu, luka ini tidak sembuh, malah kian parah
saban waktu, rimba ronyok dirempuh, malah dijadi sampah
lihatlah kepada sang pipit yang bertenggek di atas ranting
dan dengarkan siulannya, dan suaranya itu yang gering
orang berkata ia girang, walhal si pipit tidak sedikitpun girang
malah ia sedang meratap sedu, pilu, kelu, sayu
kerna kotanya tiada pernah henti diganggu
ia tahu, akibat itu, esok-esok rumahnya pula yang diradu
rimba akan tetap tidak aman, tidak, walau berzaman
namun tiada siapa ingin ambil tahu, atau mampu
sedang aku, hanya seorang penulis puisi, melantun syair
di tepi sungai, di kuat hujan, dititis air mata
angin bertiup, terselak jubah lusuh ku
lalu ku tutup ia semula, perlahan tertunduk malu

Upon My Grave

If you ever misses me, even just once
after all the years, and ages we have
If you miss me
never call my name, for in here I am mute
thus I can't answer, I will not
If you miss me
don't weep, as it will meant nothing
but a pile of fake tears
cause I won't even be there, I will not
If you miss me
don't look for me, and months wondering
you won't find me, you will not, no
If you miss me
you won't be sad, you won't feel pain
for I am your joy, I will always be
If you ever misses me, even just once
you will smile, and you will laugh
each day of each years, delightly
for it was your smile, always
that clear up the sky above me
and made me realize that life is full of light

but If you don't, then I'll be the one smiling
for as I lived, you have prosper me enough
with love and joys. won't it be your turn?

so don't cry any painful seconds no more
cause as you have always lived in my heart
I had never leave yours.

Kekasih Kelmarin

Kekasih kelmarin adalah baiduri. Permata yang disisip di antara sinar mentari yang mencarak ketika pagi dan bayangnya yang terlabuh luas, mendinding langit kehidupan ku. Ku tangkap cahayanya, ku semat penuh hemat sebagai keramat, di dalam hati ku. Kerna tanpa kekasih kelmarin, diiringi jalan dan duduk ku yang sentiasa sepi, pasti hidup ku tiada erti. Pasti cendera ku tiada mimpi. Cahayanya, kekasih kelmarin, menerangi aula alam, dari hujung angkasa ke bintang-bintang di langit malam, cahayanya, menerangi sempit dada ku, dari aliran darah ke nafas yang terberguk. Ia-lah, kekasih kelmarin, yang menjadi suluh, yang menjernihkan setiap calik ku dalam perjalanan hidup. Semula dingin subuh, yang penuh kabus dan merabuni, penuh ujian, penuh kepedihan yang perlu diharungi. Semula dari bayi, senantiasa, kekasih kelmarin ada di sisi.

Kekasih kelmarin adalah cenderawasih. Terbang dengan begitu bahadur, kekasih kelmarinlah bahaduri. Ia datang dari adan, menebar sayap kanannya, bertumbuhanlah fauna yang menjadi belantara penghias memori. Menebar sayap kirinya, bertiupanlah bayu yang menjadi ubat segala memori hitam yang menyakiti. Sedang aku adalah cenderasari, bertenggek di dahan cenderasuri, dan kekasih kelmarin, menjadi pujaan jiwa ku. Melihatnya aku mengerti, alam perlu dikasihi, hidup perlu membenih erti, aku reti, perjuangan ini adalah demi menabur seri kepada insan lain. Memadam cetera yang membenah diri dengan kebencian, menulis semula dengan teliti, sebuah alegori penuh cendekia. Kerna dalam detik kehidupan, kita tidak mahu mencari salah orang, kita tidak mahu membuat musuh, tapi kita ingin teman dan saudara. Kita ingin berkongsi setiap senyuman dan ketawa.

Kekasih kelmarin adalah adika. Menjadi contoh adicita tersohor, terluhur, kepada seluruh jelata. Dia mendeklamasi segala tata dan peri, sebelum melafaznya dalam aklamasi. Lalu rangkap itu disimpan dalam diari setiap bentar memori. Kekasih kelmarin menjadi keping-keping cicih di padang jiwa. Kekasih kelmarin menjadi cekatan dalam pekerjaan seharian. Kekasih kelmarin menjadi pelengkap hidup yang masih bengkar. Lihatlah seringkali, selang waktu, kepada ceramahnya kekasih kelmarin, dan dengari, dan fahami, lalu teladani penuh sabar. Hidulah ambarnya, kekasih kelmarin, yang mewangi. Ku semadikan pada pakaian jubah dan serban ku. Di dalam langkah dan perbuatan wudhu' ku.

Kekasih kelmarin adalah citra pengalaman dalam hidup ku, dalam hidup mu, dalam hidup setiap insan. Dialah kekasih yang perlu dikasihi, didekap erat penuh cinta dan suri. Dialah yang mengerti hari yang kini dan esok yang menanti. Jika kekasih kelmarin tidak dipandang dan dipelajari, maka sinar hari-hari akan biah, penuh suram. Namun jika diamati dengan teliti, maka pasti setiap waktu hidup akan badar, ibarat rembulan purnama, ibarat matahari menyirnakan sinarnya. Jangan pernah dilupa kekasih kelmarin, jangan pernah disembunyi kewujudannya. 

Di Tanah Cinta Bangsaku

Kuburlah jasad ku di pepasiran ini
Di tepi pantai, lautnya menatap mentari
Saat ia terbit dan terbenam di ufuk
Telah ku tinggal kekasih
Harta, dan nama; Segala yang murah
Yang tinggal hanya panji bangsaku
Telah ku hunus pedangku, ku angkat tinggi
Ku libas kanan ke kiri
Tiada sesaatpun, menjadi sesalanku
Selagi kaki ku memijak tanah ini
Tapaknya mencium pantai bangsaku
Tikamlah jantung ini di hadapan kekasihnya
di hadapan kekasihku
Melihat tangisannya, aku akan tetap tersenyum
Agar dia turut tersenyum
Maka kuburlah jasad ku
Di sini, di Tanah Cinta Bangsaku.

Jiwa Andalusia

Andalusia
Kota jiwa dan raga bertakhta 
Tempat sujudnya cinta 
Tempat jasad rebah 
Pada lorong-lorong anestesia
Tidak lagi akan mekar di kota lain
Di hatimu aku bertakhta 
Di jiwamu, jiwa Andalusia
Kekasih, aku mengucup mu
Engkau kekal indah 
Seperti indahnya Kota Andalusia

Puisi Tersenyum

Jangan bersedih, senyumlah
kerana senyuman itu ubat dukamu
senyumlah dari hati.
Senyum dengan senyumanmu yang cantik
yang membuat aku dulu jatuh cinta.
Jangan bersedih, tertawalah
dengan sopan dan penuh ria
kerna hati mu itu sangat istimewa
dirimu itu sangat berharga.
Jangan bersedih, gembiralah
dalam adab Saidatina Fatimah
puteri kesayangan Rasulullah
bukankah dia az-Zahra?
bunga yang mekar nan indah
Jangan bersedih, bersenanglah
kerana dalam payah hari-harimu
kau tahu, Allah tidak leka menjagamu
dan Dialah yang Maha Lembut
jika ada yang cinta padamu
tiada yang lebih dahulu berbanding Dia
jika ada yang terlalu sayang padamu
tiada yang lebih hebat berbanding Dia
oleh itu tiada yang lebih tahu hatimu
selain Dia.

oleh itu jangan bersedih, tenanglah
kerana kamu tidak sendiri
dan tidak akan pernah sendiri.
setiap titis air mata itu, ada Yang Menemani.

Jika

jika
puspa dibiar layu
cinta dinista dengan rayu palsu
kekasihku
puspa harus kekal mekar
berkembang ketika pagi segar
dan tersenyum di waktu malam
pendar

Mahsuri Cinta

Bunga akan layu, 
Kuntumnya terjatuh ke bumi,
Berkubur mati di kaki akarnya sendiri. 
Setelah kian hari, minggu, bulan, tahun,
Mekar di bawah sinar matahari. 
Ya Tuhanku, sesudah mati mereka. 
Reput bersama tanah, 
Jelas terbukti,
Kekal Engkau Maha Indah. 
Lalu di mana erti segala cinta yang ku baja selama ini? 
Saat tersedar, 
Di dalam cinta itu, 
Tiada keindahanMu.

Anjung Perasaan

Berjalan-jalan di tepi Anjung,
Berjalan hanya seorang diri,
Setinggi mana kekasihku sanjung,
Tiada terlawan takdir Ilahi.

Di tepi Anjung mengamati senja,
Mentari terbenam berwarna emas,
Saat rindu dan damba tiba,
Seluruh tubuh terasa lemas.

Sesudah petang tibalah malam,
Langit pun dihiasi bulan penuh,
Cinta itu tersangatlah dalam,
Tidak akan mati di hujung keluh.

Tiba masa meninggalkan Anjung,
Kerna anak menanti di rumah,
Segalanya milik Tuhan Yang Agung,
Datang dariNya, kembali jua kepadaNya.

Pantun Merindu

Meniti sungai di atas rakit
Kekasih menanti di sebelah hulu
Sekuat kaki mendaki ke langit
Menjadi lemah dipukul rindu

Pahlawan badar menjuang cahaya
Demi kekasihnya di singgahsana
Lidah mana yang tidakkan madah?
Saat rindu di hati bermahkota

Puisi dibait di bawah pelita
Rangkap disusun kalimah cinta
Saat merindu apa ubatnya?
Selain bersua berahi bicara

Keris Melayu Sudah Tumpul

Keris hilang sarung 
Lidah hilang amanah
Keris punca bertarung 
Lidah punca fitnah
Keris menikam jantung 
Lidah menikam maruah
Aman hilang negara berkabung
Melayu berpecah negara dijajah

Wednesday, April 2, 2014

Rahasia Sekeping Mata

dari mata turun ke hati
dari mata
yang sekecil, namun sedalam lautan
yang sekerdil, namun seluas angkasa
menatap ke mata insan
ibarat menatap ke langit yang aula
tidak berpenghujung
tidak berawalan
ibarat menatap galaksia
ibarat menatap mentari
ibarat menatap rembulan
ibarat menatap rahasia, tarian bidadari
rahasia, kuasa Ilahi
pada mata ada sebuah letusan
yang lebih indah dari letupnya cakerawala
pada mata ada rahasia
rahasia yang menjadi kunci
sebuah jalan yang tiada terlihat
tataplah mata insani
ambillah kunci, jalan menuju ke hati
dan tenggelam di dalamnya
melihat indahnya ciptaan Ilahi
seindah lidah yang terkesima
kerana tidak ada bicara lagi
yang bisa mencetera rahasia sekeping ain
dan nikmat keindahan, keagunganNya
pada mata ada benang-benang halus
menjadi bukti Maha Besar Allah
sungguh, Maha Suci Allah
kerana, begitu pada mini mata ini
sudah terukir jutaan Puji Robbul Izzati.

maka benarlah,
dari mata turun ke hati.

Tuesday, April 1, 2014

Kekasih Selamanya

Jika ku ukir perlahan, wajah mu
senyum mu, tawa mu,
Jika ku nukil perlahan, suara mu
manja mu, ria mu,
Hanya kertas air matalah hasilnya
Sehingga walau dikeringkan
di bawah mentari, di atas padang pasir
Hanya air mata jua yang mengalir

Rindu tidak akan berakhir buat cinta
Kerna cinta itu sifatnya rindu dan kasih
Jika ingin meludah rindu pergi,
demi menolak segala pedih perpisahan
Maka, ludah sekali percintaan itu.

Namun, apakah bisa?
Sedang begitu indahnya cinta itu
Jika ia adalah minuman, maka ia saja
yang bisa membasahi tekak ku.

Jika aku melangkah maju, setiap tapak
ini berukir memori mu,
Jika aku memandang jauh, setiap tatap
ini terlihat hanya diri mu,
Biarlah jika begitu,
biarlah masa berlalu -- hari merindu
Asalkan jangan berakhir
Segala indah cinta denganmu.

Walau hanya dalam kotak hati
dalam angan dan mimpi
Itu lebih indah, itu lebih indah
itu jauh lebih indah
Kerna ramai kekasihku
namun kau kekasih selamanya
untukku.

Jika Tiada Kekasih

Seindah permata berlian,
Seindah sutera tenunan,
Seindah badar rembulan,
Seindah istana sultan,
Seindah syurga adan,
Apalah ertinya?
Jika di situ, tiada kekasihku.

Sedang cinta itu cahaya
dan tiada yang hadir dalam gelap
kecuali kebutaan;
dan kesunyian.

Thursday, February 27, 2014

Cinta Hakiki

Tiada lentok lidah
Tiada tarian pena
Atau lirik cendera
yang mampu menutur
Bicara terindah
kepada kekasihnya
Jika kekasih itu
Bukan Yang Sejati

Sunday, February 9, 2014

Kesumat Bahaduri

Mencari indahnya sastera tidaklah semudah
Tidaklah sebentar
Lereng yang harus dilalui penuh ujian dan payah
Denai yang sering disusuri penuh buaya, penuh bahaya
Penuh susah, penuh derita
Namun jua penuh cinta, penuh mulia, penuh cerita.
Wahai sang penulis, yang dakwatnya telah hampir habis
Wahai kekasih sekeping kertas
Wahai kekasih sebatang lilin di tengah malam
Jangan berhenti
Sehingga engkau ketemu suci, luhur jalan tuan puteri
Puteri sastera anak Raja bahasa
Tanamkanlah akar cintamu sedalam yang mampu
Teduhi ia, dan sirami dengan ilham yang sopan
Diteduhi ia dengan ibadah dan pemerhatian
Lakarkanlah, karya itu menjadi sketsamu
Selayaknya darjatmu agar setinggi Raja dan Gundiknya
Sehingga engkau bertemu Sang Puteri
Kekasih dalam setiap puisimu.

Saturday, February 8, 2014

Musim Bunga Di Akhir Kucupan

Musim semi telah berlalu,
Bunga terakhir kulihat akhirnya layu,
Kini mulai musim tulis,
Zamannya tukang puisi menjela tangis,
Musim ini hanya untuk memujuk rawan,
Kesunyian yang kerap kali hadir,
di tepi tebing perhubungan orang bercinta,
Tukang puisi sendirian memerhati kasih sungai mengalir,
namun kekasih sudah lama mendayung ke muara.
Dia hanya sendiri, si Tukang Puisi, cuba meraih aksara,
Mencari kalimah-kalimah buat santapan hati,
Karya yang cukup indah sebagai alasan untuk mati,
Kerna ini musim tulis,
Kerna ini musim tulis,
Waktunya dia mencari tenang, dari segala pedih kisah lampau.
Namun bukan untuk melupakan kekasih yang telah hilang,
Kerna walau dicakar tubuh berdarah oleh harimau belang,
Tidakkan tercalar walau sedikitpun rasa cinta dan sayang.

Thursday, February 6, 2014

Bezantara Aku dan Dia

walau mampu bertentang mata,
menatap wajah mu di hadapan ku,
apakan daya hamba bertata?
pengemis kedana di kaki bayang mu.

Lara Yang Mengajarkan

kesedihan mengajar kita sopan
bukan kerana pedih yang membuat jiwa tofan
tapi kerana kebenaran dan melatih kesabaran
kerana manusia ini memiliki setan
namun saat sedih dia akan bersendirian
mengenang tiap kesalahan, mengenal Ar-Rahman,
lalu setan tunduk, 
bersinarlah iman.

Pantun Petang

menulis pantun di waktu senja,
sambil minum kopi O susu,
senyumlah selalu Oh saudara,
jangan dibiar hatinya lesu.

menatap langit yang sedang hujan,
duduk di bawah pohon yang rendang,
hidup ini memang penuh ujian,
tapi yang sabar, tetapkan tenang.

menutup buku setelah sudah,
kembali ke sawah menuai padi,
hilangkan gundah, hilangkan resah,
ucap Alhamdulillah, syukuri hidup ini.

Petah Lidah Harus Tidak Kerap

sedang punai 
tidak sering bersiul
ada waktu ia kena tidur

Cinta

Bahasa ku kebisuan berdekad
Menekad rahsia tiada rehat
Bahasa ku kasta cinta
Mengejar puteri di tingkap istana
Bahasa ku langkah tergari
Memberat tapak di muka bumi
Bahasa ku hujan tak hapus
Menyembuni di dalam kabus
Bahasa ku adalah aku
Ku senyapkan di benak rindu
Bahasa mu adalah penawar
Madu pemanis air yang tawar
Dan apabila malam sayu berlabuh
Nama mu menyelimuti dingin subuh.

Tuesday, January 21, 2014

Sandiwara Cinta

seribu patah bicara disembunyikan, terluah jelas dalam kesembunyian,
kerna aku tahu, diam mu itu. desus hati mu yang berdesis di mata mu,
nyatakanlah sahaja sayang, kerna aku akan menerima, walau pedih,
walau terlewat. aku tidak mengapa. 

Friday, January 17, 2014

Jeritan Rindu

Ku mainkan dia, berulang kali,
Muzik yang gemersik, membisik,
Kesunyian malam yang mistik.
Ku mainkan dia, berulang kali,
Muzik yang bergema, mengirama,
Kemurungan di hati seorang jejaka.
Ku mainkan dia, berulang kali,
Muzik yang berbual, mendangkal,
Hati yang sudah tidak daya cekal.
Namun aku tidak bertemu ilham,
untuk mencatat penulisan yang indah,
Pelerai nafsu yang kini ghairah.
Ghairah mencari kepuasan artistik,
yang akan mengubati kesakitan hati.
Kerna aku merindui mu, Fareha.
Terlalu merindu,
Namun tidak layak ku sampaikan
kepada mu,
Kerna setelah tiba cinta dariNya,
Maka darjat mu diangkat mulia kerna cinta
hingga aku hanya layak menjadi pendamba.
dan Apakah lagi kemuliaan yang bisa;
Aku tumpahkan di atas kertas ini?
Apabila segala sani, seri, yang ada,
Sudah hilang, tertinggal, atau pergi,
bersama mu, duhai kekasih.

Thursday, January 16, 2014

Kekasih, Jangan Pergi

Jika takut kekasih pergi,
Tulislah di dalam diari,
Cinta yang terpaksa disembunyi,
Rindu yang melelah sanubari,
Lalu simpan semuanya di dalam bungkusan,
untuk disemadi, di dalam hati,
Nanti saat takut kembali datang,
Bukalah balik bungkusan itu,
dan teliti semula rahasia cinta dan rindumu,
dan coba mengerti, walau payah,
Kerna cintalah yang membuat insani lemah,
Namun ia sahajalah kekuatan yang mengembalikan perkasa,
Oleh itu, jika takut kekasih pergi,
Tulislah di dalam diari;
"Kekasih, jangan pergi.".
Walau terpaksa jua melepaskan kekasih.

Lidah Politik Kini

Sepatah kata diterapi dengan bokoh
Seluhur bahasa disusun agar anfas
akan menyulam bicara yang sutera
Dipakai nan mengindah sebagai kemeja sang bupati
agar langkahnya, di tengah masyarakat jelata
di hadapan yang terjerit-jerit
di belakang yang berbisik-bisik
tetap teguh dan berani
Sang bupati akan diyakini, dikasihi
Namun lidah politik kekal auta
Sedang emas tiada nilai jika tiada pembelinya
inikan pula bicara lidah tidak bertulang

Wednesday, January 15, 2014

Tutur Dilemma Jiwa

Rangkap 01: Tentang Cita
Rangkap 02: Tentang Angkara
Rangkap 03: Tentang Bicara
Rangkap 04: Tentang Saudara
Rangkap 05: Tentang Wanita
Rangkap 06: Tentang aku
Rangkap 07: Tentang IRADAH

#01

menjadi pengembara tanpa terompah
di tepi sungai di gurun sahara
mencari kerja di dalam kota
mengubati nasib yang barah
mencuci luka yang parah
merancang esok begitu merah
diri berangan suatu hari akan berjaya
tidak lagi duduk di tepian paya
sebagai jenin hidupnya susah
oleh itu, jangan cita pada dunia
hidup di alam ini adalah citra
penamat terbaik syahadahlah jua

#02

ketahuilah! setiap perilaku ada hasta
tingkatkan ilmu, teguhkan takwa, celikkan mata
duduklah di dalam khalayak sebagai manusia
punya aturan di setiap langkah
agar tidak pijak semut yang lalu singgah
tercatat dosa separuh sengaja
dek jahil, kerana tiada endah
maka jangan lupa angkara yang sudah
sebagai jaga untuk esok yang tiba
matanya lelap setelah muhasabah
moga tika di padang akhirah
bukanlah ke neraka diri diludah

#03

andai lidah sependek akal yang muda
bicara yang ditutur harus waspada 
umpama adab saat bertemu raja
setiap madah disusun dengan tata
baitnya berisi kesabaran di dalam rasa
dengan ilmu, bukan dengan latah
kerna ucapan itu ada ujiannya
kerna ucapan itu ada karmanya
moleklah menilai dahulu jangan membuta
kelak lidah sendiri membawa padah
diri yang jahil tidak ke mana
ilmu yang datang malah sia-sia

#04

cinta pada teman harus tidak bertara
sebelum senyum ku, adalah tawa mereka
dan bahagia setelah mereka kaya
mengertilah! teman itu kekasih yang setia
mendamping suka memujuk duka
menghulur nafkah menyembunyi duka
sedang sebagi teman itu adanya dua
yang pertama tukang kebun, membenih bunga
yang kedua pohon, menanti belas cuaca
jadilah yang pertama, itu sahaja!
kerna seorang teman yang nyata
kedana, kecualilah kasih pada saudaranya

#05
jika puteri dikejar kerna parasnya
kumbang kan mati sebelum mendapat ia
kerna paras itu serapuh kelopak bunga
selang semusim pasti layulah kuntumnya
langkah yang jauh belum pulalah tiba
angan yang tinggi tidak ke mana
namun kumbang hanya bertemu tua
sungguh! mata yang celik ternyata buta
nikmat yang dikucup hanya sementara
tangan menggenggam bayangan cuma
nanti, paras yang cantik dimamah usia
maka cinta dan janji, hilang setia
#06

dalam jiwa ini ada amarah
memberontakkan sadar dan minda
mendakap erat iri yang meracuni rasa
akhirnya bersendiri di penjuru dunia
kemudian dalam kemelut kecewa dan dosa
memujuk diri dengan angkuh dan bengah
lantaran ego ini tidak ingin mengalah
di lopak lumpur mahu mencari nama
nama tidak dijumpa, malah hanya lelah
tubuh sakit dengan kerja yang sia-sia
memarut jutaan pedih pada hembus sukma
lebih baik, menjadilah fakir mengenal dirinya

#07

jiwa ini ibarat patung yang tidak bernyawa
kerna dalam hidup diri tiada daya
walaupun susuknya terzahir di mata
namun wujudnya kosong hanya
cuma saja begitu cela sifat manusia
ketika diri begitulah kedana
mengaku nama menabur kaya
melupa asal mendabik dada
ternyata! pada langkah terlupa ia
nilai sebenar seorang hamba
hanya hadir di dalam kalimah cinta
hanya meriah di bawah bumbung redha

( tamat )

Bungkam Rindu Buat Langit

Sepotong lidah diurai; telah kelancangan
Hilanglah azimat yang azamat dalam tatabicara
Kerna diikut marah ketika merah amarah; membisik
ibarat iblis yang telah laknat, membawa insan ikut khianat
Lalu percintaan kita menjadi baghal, dungu, lesu
Rindu yang disimpan dalam rahasia sehingga ia berida
Setelah kian lama, kini hanya tinggal serpih belantah
Tiada maknanya, tiada nilainya; Sirnalah badar
dan Berpaling meninggal langkah mu, aku kian keruh
Terpasung di dalam keabadian rindu yang tiada terubati
antara ego dan kesal, antara angkuh dan sesal
kian hari; Pada wajah ramai, sawan mengimbas wajah mu
dengan kabur, seperti mengejek aku; Lelah jiwa raga ku
Lemah langkah kaki ku
Padu langit baru, Pada angin tengkujuh, Padi musim berlalu
Hanya janggut ku yang kian kelabu
Hanya lidahlah yang manis menelan madu
Namun segalanya pahit diranum rindu
kepada mu kekasih, Seribu tahun ditinggalkan rembulan
Aku meratapi di tengah hutan; menjadi Berjuisnya dan aku
menyempit fikiran dengan sengaja
Kerna sepahit hempedu ditelan pedih
Tiadalah sesakit pisau menikam perih
Oleh itu aku mengerti, sepahit jiwa menahan rindu
Tiadalah seperti sepinya melupakan diri mu.
Bentar demi bentar, Nyawa semakin pudar, Memori kekal ambar
Aku terus cuba menampal rekah-rekah sabar
dan, Dengan tangan yang penuh luka, ku sisip perlahan
Sebarang dua senyuman mengenang rianya senyuman
Kekasih ku
Dengarkah wahai langit? Saksikan ku mohon
Ratapan rindu ku yang bungkam.

Thursday, January 9, 2014

Pedang Yang Tumpul

Pepohonan tidak tumbuh matang dalam
masa sehari
Bunga tidak berkuntum warni dalam
masa sehari
Cinta tidak akan meneguh dalam
masa sehari
Bengkik tidak akan bisa terbang tinggi dalam
masa sehari
Segalanya perlu usaha yang asa dan asah yang gigih
Menempuh lorong hidup menahan pedih
Menyabar sedih
Menegak kasih
Begitu jua tumpulnya akal yang masih bungaran
Ia perlu hiasan pedoman hasil benih pengalaman
Barulah sesuai diguna sebagai senjata
menjalan kehidupan.

Anestesia

sejauh manakah?
air mata saat ia menyusur jatuh
akankah terselam ke dasar hati?
menyubur muara jiwa yang sunyi
memohon taman roh agar mekar
penghias hidup yang belukar
atau kering sekadar? di pipi ku
saat mata ku sayu, pudar
memandang khilaf ku
saat tangan ku lesu, bergetar
dalam dingin waras yang layu
saat memori merdu, ambar
mengharum leka seorang perindu
ah, aku kini anestesia
hanya terbaring di aula kota kalbu ku.

Kesendirian

ku duduk di tepi tasik adan
di bawah sinar suam rembulan
memandang potret mu berangan
mendeklamasi, memori di suri rawan
merawan masa lalu yang tetap segar
bagai sahaja kelmarin terlakar
dan dalam lakaran itu aku tersilau
oleh bayang burung yang berlalu
pada cerminan badar di tapak air tasik