Lewat ini arus telah deras, kian deras, kian hari
di tengah lebat hujan, telah banyak yang terhanyut
lalu perlahan, demi perlahan, mati kelemasan
hujan tidak akan berhenti, selagi awan masih rawan
untuk merendam rimba, sehingga laut dapat digari
kelmarin dan esok, tiada beza dengan hari ini
kita tetap akan melihat juta nyawa menjadi santapan
jika tiada mampu ditelan, maka akan dipastikan sawan
kehilangan luhur serta jujur, berkubur di medan tempur
pepohonan yang merimbun di tepi sungai
hanya mampu menangis, menjemput embun setiba subuh
kerna mereka telah dipaku oleh akar yang ditanam dalam
cuba memujuk diri dengan hembus angin yang dendam
lalu menggugurkan dedaun, sekeping demi sekeping
dikucup ia tanah, diludah, terbiar sehingga ia kering
sampai bila? perlu kita melalui zaman yang petaka ini
saban waktu, luka ini tidak sembuh, malah kian parah
saban waktu, rimba ronyok dirempuh, malah dijadi sampah
lihatlah kepada sang pipit yang bertenggek di atas ranting
dan dengarkan siulannya, dan suaranya itu yang gering
orang berkata ia girang, walhal si pipit tidak sedikitpun girang
malah ia sedang meratap sedu, pilu, kelu, sayu
kerna kotanya tiada pernah henti diganggu
ia tahu, akibat itu, esok-esok rumahnya pula yang diradu
rimba akan tetap tidak aman, tidak, walau berzaman
namun tiada siapa ingin ambil tahu, atau mampu
sedang aku, hanya seorang penulis puisi, melantun syair
di tepi sungai, di kuat hujan, dititis air mata
angin bertiup, terselak jubah lusuh ku
lalu ku tutup ia semula, perlahan tertunduk malu