Wednesday, January 15, 2014

Tutur Dilemma Jiwa

Rangkap 01: Tentang Cita
Rangkap 02: Tentang Angkara
Rangkap 03: Tentang Bicara
Rangkap 04: Tentang Saudara
Rangkap 05: Tentang Wanita
Rangkap 06: Tentang aku
Rangkap 07: Tentang IRADAH

#01

menjadi pengembara tanpa terompah
di tepi sungai di gurun sahara
mencari kerja di dalam kota
mengubati nasib yang barah
mencuci luka yang parah
merancang esok begitu merah
diri berangan suatu hari akan berjaya
tidak lagi duduk di tepian paya
sebagai jenin hidupnya susah
oleh itu, jangan cita pada dunia
hidup di alam ini adalah citra
penamat terbaik syahadahlah jua

#02

ketahuilah! setiap perilaku ada hasta
tingkatkan ilmu, teguhkan takwa, celikkan mata
duduklah di dalam khalayak sebagai manusia
punya aturan di setiap langkah
agar tidak pijak semut yang lalu singgah
tercatat dosa separuh sengaja
dek jahil, kerana tiada endah
maka jangan lupa angkara yang sudah
sebagai jaga untuk esok yang tiba
matanya lelap setelah muhasabah
moga tika di padang akhirah
bukanlah ke neraka diri diludah

#03

andai lidah sependek akal yang muda
bicara yang ditutur harus waspada 
umpama adab saat bertemu raja
setiap madah disusun dengan tata
baitnya berisi kesabaran di dalam rasa
dengan ilmu, bukan dengan latah
kerna ucapan itu ada ujiannya
kerna ucapan itu ada karmanya
moleklah menilai dahulu jangan membuta
kelak lidah sendiri membawa padah
diri yang jahil tidak ke mana
ilmu yang datang malah sia-sia

#04

cinta pada teman harus tidak bertara
sebelum senyum ku, adalah tawa mereka
dan bahagia setelah mereka kaya
mengertilah! teman itu kekasih yang setia
mendamping suka memujuk duka
menghulur nafkah menyembunyi duka
sedang sebagi teman itu adanya dua
yang pertama tukang kebun, membenih bunga
yang kedua pohon, menanti belas cuaca
jadilah yang pertama, itu sahaja!
kerna seorang teman yang nyata
kedana, kecualilah kasih pada saudaranya

#05
jika puteri dikejar kerna parasnya
kumbang kan mati sebelum mendapat ia
kerna paras itu serapuh kelopak bunga
selang semusim pasti layulah kuntumnya
langkah yang jauh belum pulalah tiba
angan yang tinggi tidak ke mana
namun kumbang hanya bertemu tua
sungguh! mata yang celik ternyata buta
nikmat yang dikucup hanya sementara
tangan menggenggam bayangan cuma
nanti, paras yang cantik dimamah usia
maka cinta dan janji, hilang setia
#06

dalam jiwa ini ada amarah
memberontakkan sadar dan minda
mendakap erat iri yang meracuni rasa
akhirnya bersendiri di penjuru dunia
kemudian dalam kemelut kecewa dan dosa
memujuk diri dengan angkuh dan bengah
lantaran ego ini tidak ingin mengalah
di lopak lumpur mahu mencari nama
nama tidak dijumpa, malah hanya lelah
tubuh sakit dengan kerja yang sia-sia
memarut jutaan pedih pada hembus sukma
lebih baik, menjadilah fakir mengenal dirinya

#07

jiwa ini ibarat patung yang tidak bernyawa
kerna dalam hidup diri tiada daya
walaupun susuknya terzahir di mata
namun wujudnya kosong hanya
cuma saja begitu cela sifat manusia
ketika diri begitulah kedana
mengaku nama menabur kaya
melupa asal mendabik dada
ternyata! pada langkah terlupa ia
nilai sebenar seorang hamba
hanya hadir di dalam kalimah cinta
hanya meriah di bawah bumbung redha

( tamat )

No comments:

Post a Comment