Monday, July 7, 2014

Sekadar Memori Mawar

melihat mawar, pada potret alam
dalam kekaburan tengah malam, yang lesu
aku hanya mampu membisu
mencoba diamkan segala tofan di belantara
yang meronta dengan bengis
yang mengaum menempik sunyi
kerna lagu yang kau lirik masih bernyanyi
menegur air mata yang kita rahasiakan
supaya ia keluar dari sembunyi
ah, aku tidak ingin begini
kerna aku masih siuman, menepis sawan
ku pendam rawan, ku coba lawan
semua hiris luka di tiap waktu ufuk
mendengar suara mu, memanggil aku
sedang kau tiada, walau hanya bayang
pada sadar hari ini.

Seroja

lereng yang telah ku jalani menjadi munsyi buat ku
mendidik aku agar petah dalam menulis karya
menyusun huruf-huruf menjadi sebuah cerita
namun tidak pernah bisa, melakar hakikat cinta yang sempurna
aku telah merenyeh dan mengusap air mata
di waktu malam sehingga ia disapa subuh
di waktu lena sehingga perlahan jiwa ku luluh
aduhai seri purnama yang bersipu, malu
telah ku cari di serata negara, di pelusuknya
di penjurunya, di penghujungnya, dan di permulaannya
butir-butir mutiara yang memuji, cukup layak
untuk dikalungkan pada leher mu
namun seindah sinar kilaunya, seindah peri bentuknya
tidak lain hanya seketul batu kedana di sisi mu
bahasa yang telah ku kumpul tidak mampu
menjadi surat untuk ku sampulkan
sebagai menyata lafaz rasa yang bersangkar
di dada ku

Malaysia Tidak Merdeka

Lewat ini arus telah deras, kian deras, kian hari
di tengah lebat hujan, telah banyak yang terhanyut
lalu perlahan, demi perlahan, mati kelemasan
hujan tidak akan berhenti, selagi awan masih rawan
untuk merendam rimba, sehingga laut dapat digari
kelmarin dan esok, tiada beza dengan hari ini
kita tetap akan melihat juta nyawa menjadi santapan
jika tiada mampu ditelan, maka akan dipastikan sawan
kehilangan luhur serta jujur, berkubur di medan tempur
pepohonan yang merimbun di tepi sungai
hanya mampu menangis, menjemput embun setiba subuh
kerna mereka telah dipaku oleh akar yang ditanam dalam
cuba memujuk diri dengan hembus angin yang dendam
lalu menggugurkan dedaun, sekeping demi sekeping
dikucup ia tanah, diludah, terbiar sehingga ia kering
sampai bila? perlu kita melalui zaman yang petaka ini
saban waktu, luka ini tidak sembuh, malah kian parah
saban waktu, rimba ronyok dirempuh, malah dijadi sampah
lihatlah kepada sang pipit yang bertenggek di atas ranting
dan dengarkan siulannya, dan suaranya itu yang gering
orang berkata ia girang, walhal si pipit tidak sedikitpun girang
malah ia sedang meratap sedu, pilu, kelu, sayu
kerna kotanya tiada pernah henti diganggu
ia tahu, akibat itu, esok-esok rumahnya pula yang diradu
rimba akan tetap tidak aman, tidak, walau berzaman
namun tiada siapa ingin ambil tahu, atau mampu
sedang aku, hanya seorang penulis puisi, melantun syair
di tepi sungai, di kuat hujan, dititis air mata
angin bertiup, terselak jubah lusuh ku
lalu ku tutup ia semula, perlahan tertunduk malu

Upon My Grave

If you ever misses me, even just once
after all the years, and ages we have
If you miss me
never call my name, for in here I am mute
thus I can't answer, I will not
If you miss me
don't weep, as it will meant nothing
but a pile of fake tears
cause I won't even be there, I will not
If you miss me
don't look for me, and months wondering
you won't find me, you will not, no
If you miss me
you won't be sad, you won't feel pain
for I am your joy, I will always be
If you ever misses me, even just once
you will smile, and you will laugh
each day of each years, delightly
for it was your smile, always
that clear up the sky above me
and made me realize that life is full of light

but If you don't, then I'll be the one smiling
for as I lived, you have prosper me enough
with love and joys. won't it be your turn?

so don't cry any painful seconds no more
cause as you have always lived in my heart
I had never leave yours.

Kekasih Kelmarin

Kekasih kelmarin adalah baiduri. Permata yang disisip di antara sinar mentari yang mencarak ketika pagi dan bayangnya yang terlabuh luas, mendinding langit kehidupan ku. Ku tangkap cahayanya, ku semat penuh hemat sebagai keramat, di dalam hati ku. Kerna tanpa kekasih kelmarin, diiringi jalan dan duduk ku yang sentiasa sepi, pasti hidup ku tiada erti. Pasti cendera ku tiada mimpi. Cahayanya, kekasih kelmarin, menerangi aula alam, dari hujung angkasa ke bintang-bintang di langit malam, cahayanya, menerangi sempit dada ku, dari aliran darah ke nafas yang terberguk. Ia-lah, kekasih kelmarin, yang menjadi suluh, yang menjernihkan setiap calik ku dalam perjalanan hidup. Semula dingin subuh, yang penuh kabus dan merabuni, penuh ujian, penuh kepedihan yang perlu diharungi. Semula dari bayi, senantiasa, kekasih kelmarin ada di sisi.

Kekasih kelmarin adalah cenderawasih. Terbang dengan begitu bahadur, kekasih kelmarinlah bahaduri. Ia datang dari adan, menebar sayap kanannya, bertumbuhanlah fauna yang menjadi belantara penghias memori. Menebar sayap kirinya, bertiupanlah bayu yang menjadi ubat segala memori hitam yang menyakiti. Sedang aku adalah cenderasari, bertenggek di dahan cenderasuri, dan kekasih kelmarin, menjadi pujaan jiwa ku. Melihatnya aku mengerti, alam perlu dikasihi, hidup perlu membenih erti, aku reti, perjuangan ini adalah demi menabur seri kepada insan lain. Memadam cetera yang membenah diri dengan kebencian, menulis semula dengan teliti, sebuah alegori penuh cendekia. Kerna dalam detik kehidupan, kita tidak mahu mencari salah orang, kita tidak mahu membuat musuh, tapi kita ingin teman dan saudara. Kita ingin berkongsi setiap senyuman dan ketawa.

Kekasih kelmarin adalah adika. Menjadi contoh adicita tersohor, terluhur, kepada seluruh jelata. Dia mendeklamasi segala tata dan peri, sebelum melafaznya dalam aklamasi. Lalu rangkap itu disimpan dalam diari setiap bentar memori. Kekasih kelmarin menjadi keping-keping cicih di padang jiwa. Kekasih kelmarin menjadi cekatan dalam pekerjaan seharian. Kekasih kelmarin menjadi pelengkap hidup yang masih bengkar. Lihatlah seringkali, selang waktu, kepada ceramahnya kekasih kelmarin, dan dengari, dan fahami, lalu teladani penuh sabar. Hidulah ambarnya, kekasih kelmarin, yang mewangi. Ku semadikan pada pakaian jubah dan serban ku. Di dalam langkah dan perbuatan wudhu' ku.

Kekasih kelmarin adalah citra pengalaman dalam hidup ku, dalam hidup mu, dalam hidup setiap insan. Dialah kekasih yang perlu dikasihi, didekap erat penuh cinta dan suri. Dialah yang mengerti hari yang kini dan esok yang menanti. Jika kekasih kelmarin tidak dipandang dan dipelajari, maka sinar hari-hari akan biah, penuh suram. Namun jika diamati dengan teliti, maka pasti setiap waktu hidup akan badar, ibarat rembulan purnama, ibarat matahari menyirnakan sinarnya. Jangan pernah dilupa kekasih kelmarin, jangan pernah disembunyi kewujudannya. 

Di Tanah Cinta Bangsaku

Kuburlah jasad ku di pepasiran ini
Di tepi pantai, lautnya menatap mentari
Saat ia terbit dan terbenam di ufuk
Telah ku tinggal kekasih
Harta, dan nama; Segala yang murah
Yang tinggal hanya panji bangsaku
Telah ku hunus pedangku, ku angkat tinggi
Ku libas kanan ke kiri
Tiada sesaatpun, menjadi sesalanku
Selagi kaki ku memijak tanah ini
Tapaknya mencium pantai bangsaku
Tikamlah jantung ini di hadapan kekasihnya
di hadapan kekasihku
Melihat tangisannya, aku akan tetap tersenyum
Agar dia turut tersenyum
Maka kuburlah jasad ku
Di sini, di Tanah Cinta Bangsaku.

Jiwa Andalusia

Andalusia
Kota jiwa dan raga bertakhta 
Tempat sujudnya cinta 
Tempat jasad rebah 
Pada lorong-lorong anestesia
Tidak lagi akan mekar di kota lain
Di hatimu aku bertakhta 
Di jiwamu, jiwa Andalusia
Kekasih, aku mengucup mu
Engkau kekal indah 
Seperti indahnya Kota Andalusia

Puisi Tersenyum

Jangan bersedih, senyumlah
kerana senyuman itu ubat dukamu
senyumlah dari hati.
Senyum dengan senyumanmu yang cantik
yang membuat aku dulu jatuh cinta.
Jangan bersedih, tertawalah
dengan sopan dan penuh ria
kerna hati mu itu sangat istimewa
dirimu itu sangat berharga.
Jangan bersedih, gembiralah
dalam adab Saidatina Fatimah
puteri kesayangan Rasulullah
bukankah dia az-Zahra?
bunga yang mekar nan indah
Jangan bersedih, bersenanglah
kerana dalam payah hari-harimu
kau tahu, Allah tidak leka menjagamu
dan Dialah yang Maha Lembut
jika ada yang cinta padamu
tiada yang lebih dahulu berbanding Dia
jika ada yang terlalu sayang padamu
tiada yang lebih hebat berbanding Dia
oleh itu tiada yang lebih tahu hatimu
selain Dia.

oleh itu jangan bersedih, tenanglah
kerana kamu tidak sendiri
dan tidak akan pernah sendiri.
setiap titis air mata itu, ada Yang Menemani.

Jika

jika
puspa dibiar layu
cinta dinista dengan rayu palsu
kekasihku
puspa harus kekal mekar
berkembang ketika pagi segar
dan tersenyum di waktu malam
pendar

Mahsuri Cinta

Bunga akan layu, 
Kuntumnya terjatuh ke bumi,
Berkubur mati di kaki akarnya sendiri. 
Setelah kian hari, minggu, bulan, tahun,
Mekar di bawah sinar matahari. 
Ya Tuhanku, sesudah mati mereka. 
Reput bersama tanah, 
Jelas terbukti,
Kekal Engkau Maha Indah. 
Lalu di mana erti segala cinta yang ku baja selama ini? 
Saat tersedar, 
Di dalam cinta itu, 
Tiada keindahanMu.

Anjung Perasaan

Berjalan-jalan di tepi Anjung,
Berjalan hanya seorang diri,
Setinggi mana kekasihku sanjung,
Tiada terlawan takdir Ilahi.

Di tepi Anjung mengamati senja,
Mentari terbenam berwarna emas,
Saat rindu dan damba tiba,
Seluruh tubuh terasa lemas.

Sesudah petang tibalah malam,
Langit pun dihiasi bulan penuh,
Cinta itu tersangatlah dalam,
Tidak akan mati di hujung keluh.

Tiba masa meninggalkan Anjung,
Kerna anak menanti di rumah,
Segalanya milik Tuhan Yang Agung,
Datang dariNya, kembali jua kepadaNya.

Pantun Merindu

Meniti sungai di atas rakit
Kekasih menanti di sebelah hulu
Sekuat kaki mendaki ke langit
Menjadi lemah dipukul rindu

Pahlawan badar menjuang cahaya
Demi kekasihnya di singgahsana
Lidah mana yang tidakkan madah?
Saat rindu di hati bermahkota

Puisi dibait di bawah pelita
Rangkap disusun kalimah cinta
Saat merindu apa ubatnya?
Selain bersua berahi bicara

Keris Melayu Sudah Tumpul

Keris hilang sarung 
Lidah hilang amanah
Keris punca bertarung 
Lidah punca fitnah
Keris menikam jantung 
Lidah menikam maruah
Aman hilang negara berkabung
Melayu berpecah negara dijajah