Monday, July 7, 2014

Seroja

lereng yang telah ku jalani menjadi munsyi buat ku
mendidik aku agar petah dalam menulis karya
menyusun huruf-huruf menjadi sebuah cerita
namun tidak pernah bisa, melakar hakikat cinta yang sempurna
aku telah merenyeh dan mengusap air mata
di waktu malam sehingga ia disapa subuh
di waktu lena sehingga perlahan jiwa ku luluh
aduhai seri purnama yang bersipu, malu
telah ku cari di serata negara, di pelusuknya
di penjurunya, di penghujungnya, dan di permulaannya
butir-butir mutiara yang memuji, cukup layak
untuk dikalungkan pada leher mu
namun seindah sinar kilaunya, seindah peri bentuknya
tidak lain hanya seketul batu kedana di sisi mu
bahasa yang telah ku kumpul tidak mampu
menjadi surat untuk ku sampulkan
sebagai menyata lafaz rasa yang bersangkar
di dada ku

No comments:

Post a Comment