Lihatlah, seorang penulis sedang duduk di tepi sungai,
menulis-nulis pada wajah air, dengan ranting kayunya.
Lihatlah, seekor burung bersiul-siul di atas pohon,
namun siulannya tiada dijawab oleh unggas yang lain.
Lihatlah, daun-daun yang kering, warnanya kuning tua,
menari-nari di lantai bumi bersama melodi bayu.
Lihatlah, celana si penulis puisi kebasahan,
kerna air mata yang terus bertitisan dari janggutnya.
Bayangkan bertemu kekasih di setiap mimpi,
berubat rindu hanya dalam mimpi, dan ketika terbangun...
menyedari lalu menolak rahasia hati, tak ingin mengakui,
Bayangkan setiap malam merasa bahagia,
namun setiap siang menyembunyi derita.
Telah ia mencuba agar terus melangkah, mencari sembuh,
mencari hidup yang bisa dibanggakan,
namun kerap kali terjatuh, kerap kali terduduk,
kerap kali ia berdiri, namun ia jatuh semakin jauh,
dan hati terlalulah ingin selalu tersenyum,
Tiadalah indah menyimpan berbelas rasa sedih.
Tiadalah ingin terus mendayung di atas sampan, di tengah lautan.
Lihatlah, seorang lelaki berjalan di tepi pantai,
selang waktu ia berpaling, terlihat ia bekas tapak kakinya,
lalu ia terduduk malu, kerna tiada yang menyuruh, tiada yang memaksa,
melainkan tapak-tapak itu adalah bukti...
bahwa jalan ini, ia sendiri memilih untuk jalani.
Berbisik ia selang 15 purnama;
"Janganlah berteman dengan orang yang gembira,
tetapi bertemanlah dengan orang yang menangis,
janganlah berteman dengan orang kaya-raya,
tetapi bertemanlah dengan orang fakir dan miskin."
Kadang si lelaki mengerti, kadang ia hanya berpuisi.
Seringkali, ia terlupa diri.