kisah cinta, dua raga yang terpisah
aku adalah kersik abu yang bermusafir
kau adalah camar yang disangkarkan
kita bernafas di kota yang berbeza
namun hati kita duduk di taman yang sama
layla,
bisakah aku menggapai mu? melalui bicara ku dengan rembulan
yang menongkat tegak di ubun-ubun tengkorak manusia
andai bisa, pinjamkanlah aku rindu dan afeksi mu yang kau pendamkan
untuk aku gunakan sebagai mata pena dan menulis kepada mu
dan dengarlah surat suara ku yang terketar-ketar sedang berbisik
layla,
tekak ku sekarang sedang kering kehausan
tapi jiwa ku sudah kemarau kerna ditabirkan dari cinta mu
langkah ku semakin kecil diakibatkan kaki ku yang sudah melecet
tapi jarak yang ku lalui lebih kecil kerna kau adalah destinasi ku
di sahara ini aku merantau bersendirian
kerna sudah tiada lagi tempat yang lebih sesuai
buat tubuh yang masih punya degupan jantung
serta hembusan nafas yang tercungap-cungap
dan sungai darah yang masih mengalir lancar
tapi nyawanya telah lama mati
melainkan di atas bahagian bumi yang sunyi dan tenang ini
tiada hujan yang perlu ditunggu dan tiada enak yang akan hadir
layla,
walau engkau jauh, namun mata ku sering melihat mu
untuk itu, usaplah titis air mata mu dan jangan kau murung lagi
kerna aku akan terus bersama mu
sekalipun mereka mencampak ku ke matahari
No comments:
Post a Comment