Di bawah lukisan langit malam,
di bawah atap sinar gemerlapan bintang,
dan di dalam dakapan cendera...
adalah klisa yang kurangkapkan,
dalam cetera puisi yang kurindui,
sedangkan wajahmu jauh lebih indah,
hinggakan mataku tak menemui yang setara.
Lalu kubahasakan adan untukmu,
kerna kau melirikkan syurga untukku,
cuma saja lidahku kaku, penaku buntu,
... hatiku, bisu.
Cinta adalah warni ruh insan,
cinta adalah akal hati,
jiwa yang menggerakkan urat dan belulang,
kerna itu cinta bisa bersikap palsu,
dan amat menyedihkan, cintaku palsu.
Akal yang fakir ini bukanlah asbab senyummu,
tak kau temui jawapan dari cendekia hina sepertiku,
melainkan dongeng yang merugikan.
Sudahlah, berhenti menjadi bayangku,
agar kembali seri rona surimu,
agar kembali terang pelita hidupmu.
Ditemani merdu seruling buluh perindu,
ditemani hembus angin bayu syahdu,
dan di dalam pelukan kasih dan rindu,
adalah klise yang kususun penuh malu,
kerna aku hanyalah penyair, bukanlah adika pencinta.
Sungguh aku rindu tawa riamu,
jawablah soalan buta ini,
Yakinkah ada diriku untuk esokmu?
No comments:
Post a Comment